Hari yang Indah Untuk Garnis

10 Agustus 2005
Dear Diary,
Hari ini aku bahagia sekali. Bisa jalan-jalan bersama Garnis dan Tri ke Simpur. Disana kami beli boneka, baju dan aksesoris. Kmi sangat menikmati langkah-langkah kami selama diperjalanan. Setelah itu, kami kerumah Tri. Tak terasa hari sudah gelap, sudah pukul 8malam rupanya. Akupun bergegas pulang kerumah dengan sangat terburu-buru. Betul dugaanku, setelah aku sampai dirumah, ibu sudah duduk diruang tengah dengan menatap wajahku dengan pandangan sinis. “Kemana saja kamu seharian ini?” katanya. Aku tidak bisa menjawab apapun. Walau begitu, tapi aku tetap merasa ini adalah hari yang membahagiakan dalam hidupku.
☀Wati




11 Agustus 2005

Dear Diary,
Hari ini, aku tidak melihatnya disekolah. “Sepertinya dia sakit” gumamku. Setelah pulang sekolah, aku memutuskan kerumahnya yang tidak terlalu jauh dengan rumahku. Benar apa yang aku pikirkan disekolah tadi, dia memang sakit, wajahnya sangat pucat. Tidak sepertia yang aku lihar 2hari yang lalu. Andai saja dia bisa membagi sakitnya untukku, pasti kondisinya tidak akan separah ini.
☀Wati


12 Agustus 2005

Dear Diary,
Hari ini, keadaan dia semakin parah, orang tuanya memutuskan untuk membawanya ke dokter, aku meminta izin pada ibu untuk ikut bersama orang tuanya kerumah sakit. Tapi ibu tidak mengizinkanku.
☀Wati

13 Agustus 2005

Dear Diary,
jam 1 pagi tadi aku terbangun secara tiba-tiba dari tidurku yang lelap. Entah kenapa ada kekuatan yang mendorongku untuk berjalan keluar kamar dan mengintip kejendela. Setelah mengintip lewat jendela. Aku penasaran, kenapa rumah Garnis jadi seterang dan seramai itu. Akupun memutuskan untuk membuka pintu dan kerumahnya. Diruang tamu rumahnya, aku melihat banyak orang yang mengelilingi tubuh Garnis yang kurus itu. Aku bertanya pada Galuh. “Eh, gal kenapa tangannya diikat memakai saputangan seperti itu?” kataku.
“Dia sudah meninggal”, kata galuh menjawab. Aku kaget, aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa menangis. Entah apa yang aku tangisi, apa karena kepergiannya, atau mungkin karena aku tak bisa mengantarkannya kerumah sakit, entahlah. Yang jelas pikiranku saat itu sedang tidak menentu.
Paginya, dia dikubur dipemakaman dekat rumahku. Tapi tidak bisa mengantarkannya karena ibu memaksaku untuk pergi kesekolah.
☀Wati

---
Setelah kepergiannya, aku jalani hariku seperti biasa, sama seperti saat dia bersama denganku. Aku hanya bisa menatap fotonya bersamaku yang kupajang didinding kamarku. Tak ada lagi sahabat yang bisa kuajak curhat, kuajak jalan-jalan bila akubosan dengan keadaan dirumah. Selama itupun aku tak pernah mengunjunginya kemakam, aku tak ingin menambah kesedihanku tentangnya, fotoku bersamanya yang kupajang dinding aku ambil dan kusimpan dikotak yang ada diatas lemari.
Sampai pada tanggal 26 Agustus 2005, mimpi buruk datang menghampiriku. Dia datang kedalam mimpiku. Dia bertanya mengapa aku tak datang kepemakamannya. Seketika itu aku bangun, aku langsung mengambil fotonya yang kusimpan dikotak itu. Setelah aku menemukannya, aku langsung memeluknya sambil menangis.

Semenjak saat itu, setiap sebulan sekali, aku pergi kepemakamannya membawa air, yang kata guruku, air bisa menyejukkan sebuah kuburan. Aku takakan pernah melupakan semua kenangan manis bersamanya. Bagiku dia adalah teman terbaikku.

End




Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar