Kisah Dua Lembar Uang


Astri Griya Mitha, 4 Oktober 2012

Matahari bersinar dengan cerahnya pagi ini. Tidak seperti hari-hari kemarin, langit menghitam matahari malu-malu untuk menampakkan dirinya. Seperti hari-hari biasanya, aku pergi kesekolah dengan mengendarai motor bebek pemberian orangtuaku. Jalanan masih sepi, hanya ada tiga motor berlalu dijalan ini. Akhirnya aku tiba disekolah, tempat aku menuntut ilmu.

Dua mata pelajaran telah berlalu. Bel tanda waktunya istirahat telah berbunyi. Ibu Adel meminta aku dan Anton pergi menemuinya di ruang guru.. Tibalah kami ditempat yang dimaksud. Ruangan itu penuh dengan para guru, ditempat duduknya masing-masing. Disana juga terdapat beberapa murid yang dengan setia mendengarkan apa yang dibicarakan oleh gurunya. Sama seperti kami, kami mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Bu Adel. Guru yang masih muda, cantik dan banyak guru pria disekolah ini menyukainya.. Ohh, aku iri pada Bu Adel...

Tiba-tiba lamunanku buyar.. Ketika Bu Adel berbicara lebih lantang. Bu Adel meminta aku dan Anton untuk membantunya mengawas ujian mahasiswa Universitas Terbuka.. Ini adalah pengalaman pertama bagiku, aku tak akan menyianyiakan kesempatan ini. Aku langsung menyanggupinya, kemudia disusul Anton yang mengucapkan kata setuju. Bu Adel meminta kami untuk datang ke Gedung Serba Guna pada hari dan jam yang telah ia tentukan. Aku tak sabar menunggu hari itu, pastinya banyak pengalaman yang akan aku dapat dari mengawas ujian para mahasiswa...


Hari yang Aku nantikan itu tiba.. hari ini aku dan Anton mendapat surat dispen untuk tidak masuk sekolah. Kami mendapat tempat mengawas yang berbeda.. Sepanjang aku mengawas, aku hanya duduk memperhatikan kakak-kakak yang usia lebih tua kira-kira 5 tahun diatasku.. terkadang aku tertawa kecil, ketika melihat mereka mencontek tepan didepan mataku.. Tak terasa, 2 jam berlalu begitu cepat. Kakak-kakak itu sudah selesai dengan ujiannya.. kulihat beberapa dari mereka begitu kaku wajahnya setelah mengerjakan soal-soal itu.. Ketika aku akan melangkahkan kaki keluar ruangan itu. Seorang pengawas yang seumuran dengan bapakku memanggilku.. “Indah Setiawati!! Sini nak..”. Aku langsung menuju sumber suara itu, tepat beberapa meter didepanku. Bapak itu memberikan aku sebuah amplop berwarna putih. Lalu dia mengatakan bahwa aku akan bertugas 3 kali lagi, ditempat ini.. Aku mengucapkan terimakasih kepada bapak itu, lalu mencium tangannya..

Selama dalam perjalanan kerumah aku belum sempat membuka amplop itu.. setelah sampai dirumah, aku langsung mencari Ibu. Aku berikan amplop itu kepada ibuku. Ibuku membuka amplop itu.. Dua lembar uang yang berjumlah Seratus lima puluh ribu rupiah.. Bahagia rasanya bisa memberikan uang dari hasil kerja kerasku kepada ibu..

Keesokan harinya ketika aku akan pergi keruangan tempat aku mengawas.. Anton sudah berada didepan pintu ruangan itu. Dia meminta padaku untuk memberikan jatah 1 hari mengawas yang aku miliki kepadanya. Dia iri padaku karena hhanya mendapatkan jatah 2 kali mengawas sedangkan aku mendapat jatah 4.. “Ini sudah keputusan dari atas Anton, aku tidak punya kewenangan untuk menolaknya” Jawabku singkat. Lalu Anton meminta padaku “Kumohon ndah, supaya semua ini jadi adil. Berikan aku 1 jatah mengawas milikmu”. “Aku akan mempertimbangkannya” jawabku.. Perbincangan kami terhenti, ketika ada Bapak yang seumuran Bapakku datang menghampiri kami. Kali ini dia datang dengan seseorang. Sepertinya dia seumuran denganku..

Aku duduk dipojok ruangan itu, dan orang itu duduk dipojok ruangan yang lain dari ruanganini.. ketika aku membagikan absen, orang itu tersenyum padaku.. sama halnya ketika aku duduk kembali ditempat dudukku. Setiap aku menoleh kearahnya. Kulihat dia memberikan senyum termanisnya untukku.. lalu, dia berjalan kearahku. Dia memperkenalkan dirinya kepadaku. Namanya Muhammad, cowok keturunan arab. Kulitnya kecoklatan khas orang arab, senyumnya begitu manis.. sayang.. Kami tidak sempat bertukaran nomor hape..

Sampai hari keempat aku mengawas.. Aku tidak memberikan jatah mengawasku kepada Anton.. keesokan harinya.. saat aku duduk ditempat dudukku, kulihat Anton melihatku acuh tak acuh. “ Pasti karena hal itu” pikirku. Lalu ada seorang temanku yang menyampaikan pesan padaku, bahwa Bu Adel memanggilku.. Kurasa Bu Adel akan memberikan uang mengawas kemarin kepadaku sekarang. Karena kemarin Bapak itu tidak ikut mengawas bersamaku.. ku bilang kepada Anton “Pergilah kekantor sekarang, ambillah uang itu. Sepertinya kamu lebih membutuhkan uang itu daripada aku”. Dia berterimakasih kepadaku, lalu berlalu untuk mengambil uang itu diruangan guru..

Apa yang aku pikirkan saat itu.. aku juga sebenarnya membutuhkan Dua lembar uang itu.. Padahal orangtua Anton mempunyai pekerjaan yang lebih mapan dari kedua orangtuaku.. Tapi, yasudahlah.. aku yakin Allah punya rencana yang lebih indah untukku..


*****


Benar saja..

Beberapa bulan berikutnya, sebagai balas budinya..
Anton menawarkanku untuk ikut beasiswa.. dia mengajarkanku bagaimana cara mendaftar dan bagaimana cara mendapatkannya..
Beasiswa, yang membuat aku jadi lebih bisa membahagiakan orangtuaku..
Bangga..
Karena anaknya tidak hanya pandai, tapi juga beruntung..


Terinspirasi dari kisah teman baikku..
Jujur saja, aku iri padamu..
Dapatkah aku melakukan hal yang sama seperti dirimu?
Aku janji, aku juga akan mendapatkan hal itu..
Hal yang membuat orangtuaku bangga..
Sekarang..
sebelum almamater ini habis masanya..
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar