Maaf untuk Kakak

“Dimana gerangan anak keempat nak, Ibu tidak menemukannya dimanapun. Padahal hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk adik terakhirmu.” Kata seorang nenek kepada anak pertamanya. Sang anak dari tadi hanya tersenyum sambil terus memegang tangan sang Ibu dengan penuh kasih sayang. “Mungkin anak keempat sedang mengerjakan tugas dikantor, dan dia tidak bisa meninggalkan tugasnya tersebut Ibunda. Ibunda tak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja. Walaupun hari ini dia tidak datang di pernikahan adik terakhir..” Ucap anak pertama untuk menenangkan Ibunya.

Diluar ruangan tempat Ibu dan anak tersebut sangat ramai, orang-orang sedang melakukan pekerjaannya masing-masing. Ada yang membawa piring berisi makanan untuk dihidangkan di meja makanan, ada ibu-ibu yang sedang merumpi sambil memasak makanan untuk para undangan, ada anak-anak kecil yang berlari-lari dengan sangat gembira.

Ketika Ibu dan anak sedang bercakap-cakap, datang seorang gadis kecil berbaju pesta dengan bando dengan hiasan bunga dikepalanya. “Ayah, aku mau es klim, es klim, aku mau es klim yang didepan sana.” Kata anak yang cantik tersebut kepada sang ayah. Anak pertama langsung memeluknya dan menggendongnya. Mencium tangan ibunya, lalu meninggalkan ibunya di ruangan tersebut. Sang Ibu menangis, tapi buru-buru diusapnya air mata tersebut, setelah ada tetangga yang masuk ke ruangan tersebut lalu membopong nenek agar bisa duduk di kursi rodanya. Dua orang tersebut pergi meninggalkan ruangan itu.

---------------

Angin pagi begitu sunyi berdesir dengan indah. Tampak suami dan istri sedang bercakap-cakap diatas dipan. “Kurasa, hari ini aku harus pergi lagi ke rumah adik keempat istriku”. Kata sang suami memulai percakapan. Sang istri tahu pasti apa yang akan dicarinya, sampai harus bersusah payah berulang kali ke rumah sang adik.
“Pastikan kau menemuinya ketika kau pergi kerumah adik keempatmu itu suamiku. Aku tidak suka kau terus memikirkan pernikahan adik terakhirmu itu. Kau jarang memberikan aku uang bulanan, jika tidak aku sendiri yang memintanya. Anak pertamamu sedang membutuhkan uang untuk KKLnya, anak keduamu sedang membutuhkan banyak uang karena dia bersekolah diluar pulau ini, begitu pula dengan anak terakhir sedang membutuhkan uang untuk keperluan sekolahnya.” Kata sang istri kepada suaminya.

Istri melanjutkan percakapannya, kalau suaminya tak perlu selalu membantu keluarganya terutama adik-adiknya. Karena sang adik sudah berumur cukup, sudah pada menikah dan beberapa sudah memiliki anak. “Lagi pula yang ingin kau ambil adalah sejatinya uang hak milik adik terakhir, uang warisan dari ayah mertua. Adik ipar keempat harus mengembalikannya, karena itu bukan hak miliknya” ucap sang istri kepada suaminya.

Tepat seminggu yang lalu di hari yang sama, hari minggu di pertengahan bulan ini. Si anak pertama pergi dengan mengendarai motornya. Perjalanan terasa begitu jauh. Padahal jarak rumahnya dari tempat yang ingin dituju masih terletak di kota yang sama. Sekitar setengah jam perjalanan yang ditempuh. Sampailah anak pertama di sebuah gang perumah yang mengantarkannya ke sebuah rumah yang cukup berbeda keadaan dengan rumah-rumah lain disamping kiri dan kanan rumah tersebut. rumah tersebut cukup besar, indah dan bertingkat dua. Terlihat berbeda dengan rumah lain disekitarnya. Berulang kali anak pertama memencet bel rumah tersebut. tapi berulang kali pula tak ada suara yang muncul, tak ada seorangpun yang keluar dari rumah tersebut. berjam-jam sudah anak pertama menunggu didepan rumah tersebut tanpa ada kepastian.

Sampai akhirnya ada beberapa tetangga disekitar rumah tersebut menemuinya. “Bapak kakak dari pemilik rumah ini bukan? Setahu saya dari tadi pagi, saya tidak melihat ada mobil keluar masuk rumah ini, berarti adik bapak masih berada dirumah.” Kata bapak berbaju kampanye tersebut. beberapa orang tersebut lalu mohon pamit dan pergi meninggalkan anak pertama. Anak pertama hanya bisa mengelus dadanya mengetahui tingkah adik keempatnya yang sudah keterlaluan. Lalu anak pertama kembali membunyikan bel, sampai akhirnya anak pertama lelah dan meninggalkan rumah tersebut dengan perasaan kecewa pada adik keempatnya.

Selama perjalanan kembali kerumah, begitu banyak kisah yang terlintas di benak seorang ayah beranak tiga tersebut. terlintas kisah 17 tahun lalu, ketika adik keempatnya masih menempuh pendidikan SMAnya. Anak keempat menumpang dirumah anak pertama. Di beri makan, di beri uang jajan, dan dibiayai sekolahnya. Ketika itu anak pertamanya masih berumur tiga tahun, dan dia serta istrinya baru dikaruniai anak kedua yang cantik dan lucu.

Adik keempat pulang kerumah dengan wajah lesu, dilihatlah olehnya. Adik keempatnya menberitahu kakak pertamanya, bahwa dia menunggak uang sekolah selama dua bulan. Sehingga dia tidak bisa mengikuti ujian akhir semester ganjil. Sang kakak lalu menyadarinya, kemudian pergi ke bank untuk mengambil uang simpanan dia bersama istrinya untuk diberikan kepada adiknya. Istrinya yang mengetahui hal tersebut menemui suaminya, dan memintanya jangan melakukan hal tersebut. karena uang tersebut akan digunakan untuk keperluan pendidikan anak-anak. Tetapi kakak pertama tetap bersikeras, harus membayarkan uang SPP adiknya. “Dia tanggungjawabku, karena aku kakaknya, dan karena dia menumpang dirumah kita istriku.” Kata suami kepada istrinya. Sang istri ingin melanjutkan kata-katanya, namun mengurungkannya.

Kenangan tersebut terlintas begi saja, sampai akhirnya ada sebuah mobil dibelakang mengklason dengan kuat “tinnn...tinnnn”. Motorpun melaju kembali. Kini, motor tersebut telah jauh meninggalkan gang tempat adiknya tinggal bersama keluarganya.

------------

Seminggu kemudian

Satu hari sebelum hari pernikahan adik terakhir tiba. Sang adik menelpon kakak pertama agar membawakan uang untuk mahar. Telponpun ditutup, tampak sang istri terlihat kesal melihat tingkah suaminya yang lebih mementingkan urusan ibu serta adik-adiknya yang sudah tidak muda lagi.

“Sudah kubilang berkali-kali suamiku, jangan terlalu memanjakan adik-adikmu. Hidup kita ini tidak kaya-kaya amat, makan pun pas-pasan. Hanya karena kamu bekerja sebagai PNS saja. Makanya hidup kita dipandang oleh orang-orang disekitar kita. Kamu lihat kelakuan adik-adikmu itu, mereka tidak memberikan sepeserpun harta warisan dari ayah mertua kepadamu bukan?” kata sang Istri.
“Itu karena aku sudah mengikhlaskannya istriku”, jawab suaminya dengan penuh kasih sayang.
“Lihatlah sikapmu yang sangat penyayang ini, membuat adik-adikmu ngelunjak. Bahkan adik-adikmu tidak mau iuran untuk pernikahan adik terakhir mereka. Dengan alasan hidup mereka pas-pasan, inilah itulah. Pada akhirnya, engkaulah yang membayar semuanya suamiku. Lihat pula, setiap bulan Ibu mertua sakit dan memerlukan obat. Kau menebusnya dengan uang yang tidak sedikit. Aku merasa kasihan padamu.” Istrinya melanjutkan sambil menangis.

Sang suami memeluk istrinya, dia tidak tega melihat istrinya menangis. Mereka lalu pergi bersama anak terakhirnya saja. Karena mereka tidak memiliki mobil setelah beberapa tahun lalu, dipindah tugaskan di instansi dengan seseran sedikit.

Sampailah suami, istri, serta anaknya ditempat yang dituju. Tempat pernikahan sang adik, tidak mewah, tidak ada orgen tunggal sebagaimana biasanya orang lain melaksanakan pernikahan, hanya tenda sederhana didepan sebuah rumah panggung. adik terakhirnya lalu mencium tangan kakaknya dan juga istri kakaknya. Mereka lalu masuk kedalam rumah tersebut. Suami, istri serta anaknya pergi kesebuah ruangan, disana terdapat sang Ibu. Lalu mereka mencium tangannya. Setelah itu, istri dan anaknya pergi meninggalkan Suaminya berssama Ibu mertuanya. Ibu dan anak bercakap-cakap.

Hari yang dinanti semua orang dalam rumah itu telah tiba. Acara ijab kabul telah dilaksanakan, namun adik keempat tidak kunjung datang ke tempat pernikahan adik terakhirnya. Sampai ketika anak pertama beserta istri dan anaknya ingin berpamitan, terdengarlah suara mobil milik adik keempatnya.

Adik keempatnya turun dari mobil beserta anak dan istrinya seraya menangis, lalu adik keempatnya bersimpuh dihadapan kakak pertamanya serta ibunya. Adik keempat meminta maaf atas segala kekhilafannya selama ini. Meminta maaf karena tidak membukakan pintu ketika kakaknya datang kerumah minggu lalu, meminta maaf karena tidak memberikan uang warisan milik adik terakhirnya yang seharusnya digunakan untuk membiayai pernikahan adik terakhirnya. Semua itu dilakukan karena adik keempat tidak tahu harus berbuat apa. Uang warisan milik adiknya, telah dipakainya untuk membayar hutang-hutangnya di bank. Dan mobil yang dipakainya akan segera ditarik oleh bank petang ini. Usaha yang dijalankan oleh adik keempat bankrut dan sekarang adik keempat tidak tahu harus meminta tolong pada siapa.

“Sudahlah adikku, tidak apa-apa. Aku telah memaafkanmu dan telah mengkhlaskannya. Aku akan membantumu mencari pekerjaan agar kau bisa memberi makan anak dan istrimu. Tapi kau harus mengembalikan uang warisan milik adikmu. Karena dia pasti akan sangat membutuhkannya untuk keperluan hidup keluarganya.” Kata sang kakak kepada adiknya.

Adik-adik yang lain pun datang lalu meminta maaf kepada kakaknya. Suasana dirumah tersebut begitu haru, semua orang bermaaf-maafan.

-Selesai-

Selamat Datang (Kembali)



Selamat pagi, iya selamat pagi karena, dikamarku sekarang masih jam 9 pagi loh. Selamat datang kembali di blog aku :D. Sudah lama.. karena sudah setahun oh bahkan hampir dua tahun blog ini tidak terurus. Maaf, bukan karena aku terlalu sibuk. Tapi lebih dari itu, aku merasa tidak bersemangat untuk menulis blog lagi.. tenggelam bersama tugas-tugas kuliah semester 3, semester 4, semester 5 yang melelahkan..

Tapi, keinginan untuk menulis blog ini hadir kembali..

Karena ini satu-satunya blog yang aku punya.. bukan karena aku ga bisa buat akun selain ini. Ini lebih kepada berusaha mempertahankan yang telah ada itu lebih baik dari pada memulai sesuatu yang baru..
Sama halnya minggu lalu. Aku menemukan kembali hobiku yang telah hilang bertahun-tahun lalu..
Menggambar, itu hobi yang telah lama aku tinggalkan..
Terakhir ku ingat, aku sudah tidak menggambar lebih dari setahun..

Tapi aku sudah kembali..

Selamat datang kembali di Catatan Adilla..

Latihan Musikalisasi Puisi

Hari ini, kami melakukan latihan musikalisasi puisi lagi. untuk kesekian kalinya. dan kali ini kami melakukannya di Gedung Serba Guna.

20 Desember 2012

Setelah UTS Musikalisasi Puisi

08 Januari 2013

Ceritanya lagi akting nangis, tapi?

09 Januari 2013
Latihan Muspus di GSG, 01092013
Kekonyolan kami kala itu

11 Januari 2013