Syukuran Khataman

Sedikit bercerita tentang cerpen yang saya buat ini.
Sebenarnya saya sudah membuat cerpen ini saat bulan November 2014 kemarin. dan tiba-tiba terhambat ketika memasuki ending.
Jadilah cerpen ini baru saya selesaikan sekarang.
dengan berbekal motivasi saya untuk menulis dengan tajuk "1 Day 1 Post"
Jadi saya akan terus menulis setiap harinya, agar kemampuan saya dalam menulis bisa terus terasah dan Insya Allah bisa menjadi penulis handal di kemudian hari.

------------------------

Mak…….

Mak…

Bambang memanggil Emaknya. Seketika itu pula terpecah keheningan dalam rumah sederhana tersebut. Rumah kontrakan kecil berukuran 5m x 4m namun berlantai 2 tersebut. Ada apa nduk manggil-manggil emak keras-keras begitu, ndak baik. “Mak… aku sudah khatam Iqro loh”, sahut anaknya. Alhamdulillah, akhirnya nak kamu khatam juga. Lalu, kapan kamu ngaji pake Al-Qur’an cah ganteng?, Emak bertanya sambil menengok Al-Qur’an di atas televisi lama. Nah Mak, makanya itu Mak, aku gabisa ngaji Al-Qur’an kalo belum syukuran khataman, jawab si anak dengan wajah cemberut. “Ah, yang benar nak. Coba emak tanya Bu Mis , ibunya Rasyid dulu”, jawab sang Ibu yang berusaha menenangkan si anak.

Maka pergilah si Ibu kerumah Bu Mis, yang merupakan pemilik kontrakan tempat mereka tinggal yang berjarak tidak sampai 5 langkah dari rumah yang mereka tempati. Maka berkatalah si Ibu, mengutarakan sesuai dengan perkataan si anak pada Ibunya. Tak kala Ibu Mis mendengarkannya, Ibu Mis nampak kaget dan keheranan. Karena anaknya pun yang sudah duluan lulus mengaji irqo juga belum syukuran khataman dengan alasan si Ayah sedang banyak keperluan, mau bayaran sekolah kakak-kakaknya Rasyid yang masih SD kelas 4 dan dan SMP kelas 2 lah, mau bayar PBB, mau bayar buku untuk anaknya yang paling bongsor lah, mau untuk ini, untuk itu, banyak sekali. Tapi, yang membuat Bu Mis heran, anaknya masih boleh mengaji Al-Qur’an tuh.

Merasa tak mendapat jawaban yang diharapkan dari Bu Mis. Emak akhirnya menyuruh si anak untuk bersabar dan tetap datang untuk mengaji keesokan harinya, sembari Emak mencari tambahan dana agar si anak bisa segara syukuran khataman iqro, agar si anak bisa segera mengaji Al-Qur’an.

Si anak pun dengan berat hati menuruti perkataan Emaknya.

Maka, keesokan harinya pada jam yang sama, suasana yang hampir sama seperti kemarin, ketika awan sedikit mendung, angin yang bersemilir, ketika matahari mulai menenggelamkan dirinya, ketika langit mulai berwarna jingga cerah. Saat itulah, si anak bersiap-siap untuk pergi mengaji. Sesuai dengan perintah emaknya kemarin. Si anak berangkat mengaji, kali ini anak tidak sendirian. Kali ini anak itu di temani oleh anaknya Bu Mis. Pergilah mereka berdua, bersama dengan kakak perempuannya Rasyid, dan beberapa teman mereka yang lainnya.

Bambang memulatkan tekat untuk berbicara pada Guru ngaji mereka, bahwa Emaknya akan segera membuatkan syukuran khataman untuk dirinya, tetapi tidak sekarang, mungkin 2 sampai 3 minggu lagi itu akan terlaksana, karena Emak harus mencari dana tambahan untuk bisa membuat syukuran khataman meskipun sederhana untuk anaknya. Guru ngaji tampak maklum, walaupun ada sedikit kekecewaan diwajahnya. Bagaimanapun dengan adanya syukuran khataman walaupun hanya nasi kuning untuk dimakan bersama-sama. Itu akan membuat teman-teman Bambang yang belum khatam iqro menjadi bahagia dan termotivasi untuk belajar iqro dengan lebih giat. Itupun akan membuatnya bangga terhadap dirinya sendiri, karena dia telah berhasil membuat anak didiknya mengaji dengan lancar.

Maka emak keesokan harinya berusaha lebih giat bekerja. Emak yang sudah 2 minggu tidak berjualan jamu, kembali membuat jamu pait, gula untuk jamu, jamu kuat, jamu untuk wanita haid, dan jamu-jamu lainnya yang ditaruh dalam bakul. Lalu Emak berangkat pagi-pagi sekali. Si anak mengantarkan emak sampai emak menyebrang dijalan depan gang, dan menunggu emak naik angkot. Lalu berangkat ke sekolah. Sambil berharap emak segera mendapatkan uang yang cukup untuk membuat khataman sederhana untuk dirinya.

“Udah beberapa minggu lho, aku ga liat mbak jualan jamu didaerah ini. Kemana aja mbak?” tanya Bu Nani langganan jamunya Emak. “Iyo Bu, beberapa minggu kemarin saya nemenin suami saya berdagang mie ayam di Pasar. Jadi gabisa jualan jamu pagi-pagi.” Jawab Emak. “Wah, berarti habis ini, langsung ke Pasar dong Mak, nemenin suami dagang?” Tanya Bu Nani kembali. “Iya Bu, mau ga mau harus ke Pasar nanti”, Jawab Emak. “Emang lagi butuh banyak duit ya Mbak, sampe kerja berat banget?” Tanya Bu Nani dengan wajah penasaran. “Iya lumayan sih Bu, lagi butuh tambahan duit untuk syukuran khataman anak bungsu saya, ga tega saya ngeliat dia nangis minta adain syukuran khataman”, Jawab Emak sambil memberikan jamu pesenan Bu Nani. Bu Nani pun membayar dengan uang lebih, ketika Emak hendak memberikan kembalian Bu Nani malah menolak. “Udah Mak, gapapa kok, itung-itung buat nambahin syukuran khataman anak bungsu Emak”, kata Bu Nani. Emak tak henti-hentinya bersyukur karena masih ada orang yang baik hati terhadap orang yang bukan sodaranya seperti Bu Nani.

Maka setelah dagangan Emak habis. Emak tidak langsung ke pasar menemani suaminya. Emak berbelanja bahan-bahan yang di perlukan untuk membuat nasi kuning serta lauk-pauk pelengkapnya. Barulah Emak, pergi ke tempat suaminya berdagang dengan membawa bakul dan seorang anak kecil dibelakangnya membawakan belanjaannya. Bapak yang melihatnya nampak keheranan. Alangkah banyaknya belanjaan yang dibawa oleh sang Istri.

Setelah dia mendengar apa yang dikatakan sang istri, Bapak sangat bersyukur. Bapak mengatakan kepada Istrinya bahwa istrinya harus membalas kebaikan Bu Nani yang telah baik kepada keluarga mereka. Ibu berkata hal itu sudah seharusnya dia lakukan kepada orang yang berhati malaikat. Mereka tidak lupa bersyukur kepada Allah, S.W.T.

Keesokan Harinya

Bambang pulang dengan bahagia, dan memeluk Emaknya.


-Selesai-
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar