Hai, 2017

Hai..
Sudah berapa lama ya aku melupakan kamar lamaku (maksudku blog ini)
Aku sendiri sebenarnya bingung, harus memulai ceritaku dari mana. Selama 2016 kemarin aku tidak kemana-mana, aku tidak berjalan-jalan ke luar Provinsi, hanya keluar kota beberapa kali, dan terkadang jalan-jalan ke tempat wisata baru yang ada di Kota tempat aku tinggal.
Sepupuku juga pada tahun itu datang kerumahku, tinggal dirumahku untuk bekerja, lalu cerita selanjutnya kuliah dan karena satu dan lain hal dia  memutuskan untuk tidak tinggal dirumah ini.

Lalu aku.. aku masih seperti ini, masih suka berkeliaran bagai hantu di kampus, di perpus, sesekali di tempat fotokopi, tapi paling sering dirumah dan lebih tepatnya di kamarku.

Karena sudah lama aku tidak berbenah disini, maka aku memperkenalkan diriku kembali..
Perkenalanku ini sama seperti buku yang baru saja aku baca, 3 novel Dilan karya Pidi Baiq (kurasa aku tak perlu menyebutkan judulnya, karena sebagian dari kalian pasti tahu)

Namaku Dilla, aku perempuan. Umurku 23 tahun, sekarang aku mahasiswa tingkat akhir di Kampus tempatku kuliah. Aku anak pertama, mempunyai 4 orang adik yang memiliki nama depan sama denganku. Hobiku, hmmm kalau yang kau maksud hal yang paling sering ku kerjakan setiap hari, aku akan menjawab hobiku membaca bbm, line, instagram sama seperti rata-rata remaja sering kerjakan. Tapi keseringanku membaca semua itu bukan untuk membaca pesan dari pacarku, melainkan karena bisnis yang sedang aku kerjakan. Bisnis yang berawal dari perkenalanku dengan temannya sahabatku waktu itu sekitar tahun 2012. Lalu aku bekerja sama dengan penjual Kue langganan dia, dan sekarang aku membuka usaha kueku sendiri tanpa aku tahu menahu soal resep rahasia si penjual kue langganan temanku itu.

Bersamaan dengan awal kisahku di 2017 ini, aku akan menceritakan kisahku selama 8 hari di 2017 ini. Aku akan menceritakannya seperti saat aku menulis buku harian, agar kelak jika aku lupa aku bisa kembali mengingatnya saat aku membaca kembali kisahku disini, dan seperti inilah kisahku..

Awal Tahun

Sudah tahun 2017 saja, tapi ritualku tetap sama. Aku akan tidur sebelum jam 12 malam, dan ternyata hal itu aku lakukan kembali. Bisa dibilang aku payah, karena aku tidak bergaul dengan teman-temanku agar bisa merayakan tahun baru bersama-sama. Tidak mengajar Maria jalan-jalan juga, sedikit perkenalan Maria sahabatku dari kelas 1 SMA, kami bersekolah di SMA yang sama, kami sekelas saat kelas 1, tapi kami tidak pernah menjadi teman sebangku, hahaha untuk apa juga kami duduk sebangku karena ada banyak kursi dikelas. Dia orang yang sangat baik. Menurutku, itu adalah kali pertama aku menemukan sahabat seperti dia. Orang yang asik diajak ngobrol, pintar, rajin, dia juga mudah bergaul dengan siapa saja. Walaupun kami tidak sekelas saat kelas 2 dan 3, karena aku di jurusan IPS dan dia di IPA. Tapi, kami tetap dekat karena kami satu organisasi Rohis yaitu Rohani Islam. Seingatku aku bahkan tidak pernah marah, cemberut, apalagi  bermusuhan dengannya. Persahabatan kami adem ayem, jarang sekali kami berbeda pendapat. Dan sampai saat aku menulis ini, dia masih menjadi sahabatku. Beberapa jam yang lalu aku baru saja sms dia tentang novelnya Pidi Baiq.

Kembali ke kisahku. Benar saja, saat jam 12 malam aku terbangun oleh suara petasan yang datangnya silih berganti bagai deburan ombak. Bedanya, jika suara ombak bisa membuatku tertidur pulas, maka bunyi petasan bisa membuatku terbangun, bagai kaget karena mimpi buruk.
Hari itu sekitar jam 7 pagi ayahku dapat telepon dari adiknya yang tinggal bersama umehku (ibunya ayahku) kalau kondisi umeh sedang tidak baik. Tapi umehku sudah lebih dari 8 tahun dalam kondisi tidak baik karena sulit berjalan akibat terjatuh dari tangga, juga mulai sakit-sakitan karena umur. Itu berarti kondisi umehku jauh lebih membahayakan daripada saat itu.

Sehari setelahnya 2 Januari 2017 pukul 01.26 WIB umeh meninggal dunia. Aku sendiri baru tahu berita itu pukul 3 pagi, karena aku baru membaca pesan dari ayah pada jam tersebut. Aku merasa sedih kehilangan umeh, dan ayah setelah berita kematian umeh, otomatis dia telah menjadi Yatim Piatu dengan 9 orang adik. Tapi kau tak perlu khawatir, karena 9 adik ayahku sudah berkeluarga, bahkan anaknya dari adik ayahku sudah ada yang memiliki keluarga dan mempunyai keturunan. Bisa dibilang Ayahku sudah menjadi Kakek sekarang, ya walaupun itu bukan cucu yang berasal dariku hehe.. Untuk umehku, kurasa dia pasti sangat ingin merasa bebas, karena selama 8 tahun kebelakang umeh telah banyak menderita karena sakit yang dideritanya. Aku sebagai cucu yang sangat jarang mengunjunginya hanya bisa mendoakan agar arwah umeh bisa diterima dan tenang di sisi-Nya.

Asal kau tahu saja, karena umehku memiliki 13 anak, 10 diantaranya masih hidup. Sudah pasti umehku memiliki banyak cucu. Aku sendiri takjup melihat semua sepupuku, mamang dan bibi datang kepemakaman hari itu. Aku bahkan tidak begitu mengenal wajah mereka. Mengingat terakhir kali aku pergi lebaran ke tempat umeh adalah 4 tahun lalu. Jika kau tanya aku siapa saja nama sepupuku, aku tidak akan mengingatnya. Bahkan jika kau tanya aku siapa nama paman dan bibiku aku tidak akan tahu jika aku tidak melihat foto di rumah umeh, atau jika aku bertanya pada ayahku. Ahh, masalah terbesarku adalah aku susah mengingat nama-nama orang dan tempat. Lebih tepatnya, aku mudah ingat dan mudah lupa.

Aku belum bercerita padamu bagaimana caraku bisa sampai ke tempat umeh. Hari itu aku bersama adikku, Bude Tum, Pakde Mar, Pakde Do, Lindri dan Bambang serta supir yang baru ku ketahui setelah aku sampai dirumah pakde itu adalah adik dari pakde tetangga yang sudah meninggal 2 tahun lalu. Walaupun perjalanan tersebut adalah perjalanan menuju tempat berduka. Tapi, ada sedikit kebahagiaan hari itu. Pada hari itu, aku bertemu banyak saudara yang pada saat lebaran belum tentu aku melihat mereka. Perjalanan menuju tempat umeh yang cukup menyenangkan padahal waktu tempuh 4 jam lamanya. Apa yang menyenangkan dari perjalanan itu?
di perjalanan itu aku melihat sisi kekeluargaan dari tetanggaku, aku jadi makin akrab dengan mereka. di saat perjalanan pulang, kami sempatkan diri untuk mampir di warung makan yang entah apa namanya karena aku lupa. Makanannya enak dan murah, bayangkan saja 190rb untuk 9 orang hahaa..

itu sedikit kisahku diawal tahun. Aku bisa saja menulis lebih panjang lagi dan lebih ngalor-ngidul lagi. Ahh. itu nanti saja ku ceritakan. Aku sudah capek mengetik, dan tak terasa aku sudah menghabiskan waktu 1 jam untuk mengetik ini. Kau pernah merasakan kesedihan dan kebahagiaan dalam waktu yang berdekatan? Yah seperti itulah yang kurasakan di awal tahun 2017 ini.
Sekian dariku.
Reaksi: